Nasional
Internasional
Ekonomi
Kuliner
Budaya
Sport
Olahraga
Teknologi
Lifestyle
Investigasi
Lingkungan
Semarang
Tempo Doloe
Wisata
Kuliner
Property
HEADLINE

Search

Semarang Dalam Kisaran Abad Pandanaran II sebagai Bupati Pertama

Semarang Dalam Kisaran Abad  Pandanaran II sebagai Bupati Pertama

Semarang Dalam Kisaran Abad, Pandanaran II sebagai Bupati Pertama

Ki Ageng Pandanaran II dinobatkan sebagai Adipati Semarang pada 12 Rabiul Awal tahun 954 Hijriah atau bertepatan dengan 2 Mei 1547.

Bubakan menjadi wilayah Kadipaten Semarang saat Ki Ageng Pandanaran II dilantik sebagai adipati pertama setelah Pandanaran sebelumnya wafat. Sebelum dikenal sebagai Bubakan, kawasan tersebut disebut Pegisikan atau Pantai yang berada di wilayah Pulau Tirang Amper.

Peran penting Pandanaran II sebagai juru nata atau penata wilayah Kadipaten Semarang tidak lepas dari latar belakangnya sebagai saudagar sekaligus syahbandar kaya pada masa itu.

Ia mengembangkan konsep industri sebagai penopang kekuatan ekonomi Asamarang dengan membangun berbagai sentra industri kerajinan yang kemudian melahirkan sejumlah toponimi di kawasan pusat kadipaten.

Industri kerajinan menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Semarang kala itu. Jejaknya masih dapat dilihat dari sejumlah nama kampung yang bertahan hingga sekarang.

Kampung Batik dikenal sebagai sentra kerajinan batik, Kampung Pedamaran sebagai pusat penjualan damar untuk pewarna batik, serta Kampung Bubutan yang dikenal sebagai tempat pembuatan bakiak atau alas kaki kayu yang disebut teklek.

Namun terdapat satu toponimi yang dinilai luput dari catatan sejarah, yakni Kampung Wong Prau yang kini lebih dikenal sebagai Kampung Wot Prau.

Keberadaan toponimi tersebut diduga berkaitan erat dengan aktivitas pelabuhan di kawasan Semarang pada masa Kadipaten Asamarang berkembang.

Melihat posisi Ki Ageng Pandanaran II sebagai syahbandar sebagaimana tercatat dalam Babad Demak, dapat diduga bahwa kawasan Semarang kala itu telah memiliki pelabuhan yang ramai oleh aktivitas perdagangan.

Dugaan tersebut diperkuat oleh catatan tahunan Melayu Semarang dan Cirebon yang menyebutkan bahwa pada pertengahan abad ke-16 telah berkembang galangan kapal di Semarang dengan tenaga kerja orang-orang Tionghoa.

Berdasarkan sejumlah sumber sejarah, Semarang pada abad ke-16 telah berkembang menjadi kota pemerintahan sekaligus kota pelabuhan dengan basis ekonomi industri kerajinan dan perdagangan.

Sangat mungkin pada masa tersebut Wong Prau menjadi bagian dari tenaga kerja pelabuhan. Batik Semarang juga diyakini telah menjadi kebutuhan sandang masyarakat sekaligus komoditas perdagangan penting di Kadipaten Semarang.

Asal-usul Batik di Jawa

Menurut Standar Industri Indonesia (SII), batik merupakan bahan tekstil yang diberi warna dan motif khas Indonesia dengan menggunakan lilin sebagai bahan perintang warna.

Alat yang digunakan dalam proses membatik antara lain canting, bilah kayu, dan kuas. Dalam bahasa Jawa, kegiatan membatik disebut “mbatik” yang memiliki makna serupa dengan kata “thika” dalam bahasa Jawa Kuno, yakni menulis, melukis, atau menggambar.

Pada abad ke-16 belum dikenal sistem cap atau printing untuk memberi motif pada kain. Di Inggris, sistem cap silinder baru ditemukan pada tahun 1785, sedangkan di Jawa teknik cap mulai digunakan pada abad ke-20 dan berkembang luas di Indonesia sekitar tahun 1970-an.

Dari pengertian tersebut, J.V.J Baak menyatakan bahwa batik di Jawa telah ada sejak tahun 700 Masehi.

Pendapat itu didasarkan pada legenda Lembu Amiluhur, Raja Jenggala di Jawa Timur yang disebut memiliki istri dari Koromandel dan mengajarkan masyarakat Jawa mengenai cara menenun, membatik, serta mewarnai kain.

Gunung W Mahessa

Semarang Selayang Panjang

Kategori: tempo doloe